Thursday, November 24, 2016

POLA ASUH ATAU MENDIDIK ANAK YANG BAIK


A.    Pendidikan Anak Dalam Islam
Mendidik anak tidak hanya menjadi tugas para Ibu, tetapi juga menjadi tugas Bapak. Lihatlah figur-figur Bapak teladan yang diabadikan khusus dalam Al-Qur’an (misalnya Nabi Ya’qub a.s., Nabi Ibrahim a.s., Luqman Al-Hakim, dan sebagainya).
Pola asuh yang digunakan orang tua dalam mendidik anak bermacam-macam, setiap orang tua punya style sendiri yang unik. Perlu dipahami bahwa anakpun tumbuh-kembang secara bertahap. Beberapa materi yang penting sejak dini ditanamkan adalah pendidikan keimanan, pendidikan untuk membiasakan beribadah, pendidikan akhlaq, pendidikan emosi, dan sebagainya.
Mentransfer materi-materi itu dilakukan dalam proses tarbiyah yang tujuannya adalah menanamkan agar dapat terinternalisasi dalam diri anak; antara lain dalam mengajarkan nilai-nilai pada anak, termasuk nilai kedisiplinan. Tidak dapat dinafikan bahwa nilai ini akan berguna bagi kehidupan anak di masa mendatang. Untuk menanamkan nilai ini perlu secara bertahap dan dengan kesabaran.
1.      Melatih kedisiplinan
Orang tua dapat melatih kedisiplinan antara lain dengan pemberian aturan, mengajarkan toilet-training sejak tahun-tahun pertama kehidupannya. Setiap anak pada dasarnya sama, yakni akan menjadikan setiap pengalaman hidupnya untuk belajar; aturan dari orang tua akan diserap dan suatu saat akan dipakai untuk mengatasi masalahnya. Ketika penanaman nilai dilakukan secara keras (mungkin istilah Bapak disiplin tinggi), misalnya, maka mungkin nilai ini akan ditolak atau akan diterima anak; tetapi anakpun suatu saat akan mentransfer nilai ini dalam hidupnya termasuk dengan konsep sertaannya yakni kekerasan dalam mengajarkan nilai tersebut.
Orang tua yang selalu mengajarkan nilai tanpa penjelasan, sering disebut orang tua dengan pola asuh otoriter. Orang tua tidak memberi cukup penjelasan mengapa nilai tersebut harus dipatuhi anak. Anak tertentu mungkin pasif agresif, melakukan penentangan secara diam-diam di belakang orang tua, tetapi ada yang menggunakan agresif langsung dengan membangkang. Orang tua perlu memahami karakter anak yang khas. Biasanya dapat diketahui dari reaksi anak dan perilakunya sehari-hari. Untuk menghindari trauma emosional ketika pengajaran disiplin, mestinya orang tua telaten, disertai kasih sayang dan ketika kemampuan kognitifnya semakin berkembang maka hendaklah lebih dialogis ketika mengajarkan kedisiplinan ini.
2.      Mengoptimalkan masa emas anak hingga 0-3 atau 6 tahun
Masa emas (golden age) antara 0-2 th, 2-4 th karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, antara lain volume otak. Maka perlu dioptimalkan dengan memberi asupan gizi yang memadai dan stimulasi/ rangsang panca indra yang cukup. Anak-anak pada masa ini sering menjadi tugas pembantu untuk menangani karena biasanya belum bersekolah.
Jika anak dibiarkan oleh si pengasuh tanpa distimulasi yang cukup maka sungguh sayang masa emasnya akan terlewati. Patut disyukuri bahwa kini muncul solusi bagi Ibu yang bekerja atau kurang dapat menstimulasi secara optimal, bahwa telah bermunculan kelompok-kelompok bermain yang Islami (Play Group atau Tempat Penitipan Anak atau PAUD [Pendidikan Anak Usia Dini]). Dalam kelompok ini prinsipnya adalah memberi anak kenyamanan dengan bermain; sebenarnya bermain bagi anak sama dengan belajar. Namun akan lebih baik dan efektif ketika ibu yang telah mengandung, melahirkan dan menyusui yang turut mendidik anak tersebut, tidak semata-mata menyerahkan kepada tempat penitipan. Sehingga pentingnya seorang ibu yang cerdas, smart dan berpendidikan. Jadi, bagi wanita karier perhatikan kewajiban utama sebagai ibu yakni mengelola urusan rumah tangga. Dimana bekerja itu tidak sekali-kali merupakan kewajiban seorang ibu bahkan sunnah pun tidak. Namun ketika seorang ibu ingin bekerja harus seizin suami dengan catatan Urusan Rumah Tangga (anak dan suami) menjadi prioritas.
Atau bagi orang tua yang punya waktu untuk mendampingi anak dapat menjadi figur sentral dengan memanfaatkan APE (Alat Permainan Edukatif) yang banyak ditawarkan.
3.      Memilih tempat pendidikan anak di sekolah yang unggul tapi non-muslim atau sekolah berbasis Islam?
Selain belajar dari lingkungan keluarga, anak juga belajar dari lingkungan masyarakat (teman) maupun pendidikan formal. Ketiga komponen ini harus saling mendukung agar tidak terjadi konflik nilai pada anak. Sekolah non-muslim sejauh yang kami ketahui tidak lepas dari pengajaran agama berdasar keyakinan agamanya. Ini yang perlu diwaspadai karena pengetahuan anak yang masih terbatas dapat memunculkan ketertarikan pada agama tersebut atau minimal kebimbangan beragama. Meskipun dalam aspek-aspek tertentu sekolah tersebut punya keunggulan, orang tua tetap harus memprioritaskan pendidikan keimanan yang kuat pada usia-usia awal hidup anak. 
Jika pendidikan yang diterima anak dari rumah sudah tertanam dengan baik maka insya Allah ini akan menjadi benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan yang tidak kondusif. Bagaimanapun anak tidak bisa steril dari berbagai ”virus” lingkungan luar. Oleh karena itu, orang tua perlu meningkatkan imunitas anak dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi. Do’a kita sebagai orang tua amat berperan, agar Allah swt memberi inayah-Nya untuk menuntun anak-anak meniti kehidupannya.
B.     Pola Asah Asih Asuh Dalam Mendidik Anak
Perkembangan anak sangat dipengaruhi banyak hal.  Salah satunya adalah lingkungan dan pola asuh orang tua dalam mendidik anak.  Tanpa pemberian kasih sayang yang baik maka potensi anak tidak akan mampu berkembang secara baik.  Kasih sayang orang tua sangat mempengaruhi kecerdasan anak terutama ketika anak memasuki usia emas mereka.  Interaksi yang baik antara orang tua dengan anak akan mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang dimiliki anak.

Tapi sayangnya saat ini para orang tua banyak yang ‘mengabaikan akan pentingnya interaksi orang tua dengan anaknya’.  Terutama untuk para orang tua yang dua-duanya mengejar karier dan lebih mempercayakan pengasuhan anaknya kepada orang lain.  Padahal ikatan batin antara orang tua dengan anak akan bisa terjalin dengan erat manakala hubungan keduanya terdapat kegiatan interaksi yang berkesinambungan dan komunikasi yang baik.

Salah satu yang mesti kita perhatikan dalam mendidik anak pada usia emasnya atau Golden Age adalah pola asah, asih dan asuh.  Ketiganya ini menarik untuk dicermati dan dipelajari lebih dalam lagi agar pemberian pola pengasuhan dan perawatan kepada anak bisa maksimal.  Antara pola asah, asih dan asuh memiliki karakteristik dan definisi sendiri-sediri dan saling berkaitan.

1. Pola Asah (Mengasah)
Pola asah anak adalah upaya kegiatan untuk merawat anak yang bertujuan untuk mengasah dan merangsang segala kemampuan yang dimiliki anak dan memunculkan bakatnya yang masih tersimpan yang dilakukan secara konsisten dan berkisanambungan.  Hal yang bisa dilakukan dalam mengasah kemampuan anak adalah dengan memberikan pola pendidikan dan pembelajaran.
Proses pendidikan dan pembelajaran kepada anak hendaknya dioptimalkan ketika anak memasuki usia emas.  Rentang usia yang perlu dimaksimalkan adalah usia dari 0 hingga 6 tahun.  Pada usia tersebut anak akan mengalami peningkatan perkembangan yang pesat terutama perkembangan otaknya.  Hampir 80 persen perkembangan otak anak berkembang pada usia emas tersebut.

2. Pola Asih (Mengasih/Memberi)
Penerapan pola asih yang baik kepada anak akan memperkuat hubungan batin antara orang tua dan anak.  Hubungan batin yang kuat akan memupuk rasa kasih sayang antara anak, orang tua dan antar sesama. 
Berikan pujian, penghargaan, kasih sayang pengalaman baru, rasa tanggung jawab dan kemandirian kepada anak.  Pola asih yang benar kepada anak akan mampu untuk memaksimalkan perkembangan kecerdasan emosi anak.  Karena kecerdasan emosi memegang peranan penting dalam menyukseskan anak.  
Berikanlah teladan yang baik di dalam lingkungan keluarga agar anak bisa meniru kebiasaan baik tersebut dan tentunya anak akan merasakan kasih sayang dari orang tuanya.  
Sebaiknya para orang tua menghindari pola pendidikan yang keras, kasar dan menyeramkan.  Jangan membangun benteng ketakutan kepada anak karena bisa mempengaruhi kecerdasan emosinya.

3. Pola Asuh (Mengasuh)
Pola asuh kepada anak adalah kegiatan membesarkan anak yang berkaitan dengan cara merawat anak dalam kehidupan sehari-hari.  Baik itu yang berhubungan dengan asupan gizi, kebutuhan tempat tinggal hidup yang layak, pakaian yang bersih dan nyaman serta kebutuhan akan kesehatan anak.  Kebutuhan tersebut juga memiliki peranan penting untuk pertumbuhan anak.  Terutama kebutuhan akan gizi untuk membantu tingkat kecerdasan anak.  Anak yang cerdas memerlukan energi yang cukup sehingga pemenuhan akan kualitas gizi anak juga perlu diperhatikan dengan baik. Sedangkan untuk membantu menjaga kesehatan anak diperlukan tempat tinggal dan pakaian yang bersih dan nyaman.

Pola asah, asih dan asuh harus dikombinasikan secara baik agar segala kebutuhan yang diperlukan untuk perkembangan anak dapat terpenuhi secara sempurna.  Kerja sama yang baik antar orang tuaakan membuat kegiatan membesarkan anak dan penerapan pola asah asuh dan asih dapat berjalan dengan baik tanpa ada ketimpangan beban di masing-masing orang tua.  Menikmati proses dalam merawat dan mendidik anak akan membuat perjalanan hidup terasa luas dan membahagiakan.
C.    Pola Asuh Anak Qur'ani
Tentunya pola asuh  menurut Islam, adalah pola asuh yang Qurani, sesuai Al Quran, seperti pola asuh Luqman kepada anaknya, yang utama dan pertama adalah tauhidnya. Merawat, mendidik, mengasuh anak seperti merawat tanaman. Jika pupuknya baik, maka akan baik tumbuhnya. Jika anak dipupuk dengan kalimat kalimat thayyibah, kasih sayang, dan akhlak yang baik, maka anak tumbuh dan berkembang dengan baik.
''Pendidikan Qurani'' menurut Hasan Basri Tanjung sebagai berikut:
Orangtua adalah guru utama dan keluarga sebagai sekolah pertama untuk melahirkan generasi terbaik.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk(Q.S. Al Bayyinah [98] : 7).

Al Quran mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q.S. An Nisa [4] : 9).
Tetapi generasi yang kuat, cerdas, penyejuk mata dan hati, serta pemimpin orang yang taqwa. 
‘dan orang orang yang berkata: “ya tuhan kam anugrahkan kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikan kami imam bagi orang orang yang bertaqwa” (Al Furqan [25] : 74).
Bagaimana Lukman dan nabi Ya’qub mendidik anak sehingga kisahnya diabadikan dalam Al Quran?

a.      Pendidikan Luqman Al Hakim yang memberikan teladan dalam mendidik anak yang benar yakni penanaman Aqidah/tauhid lebih dahulu serta akhlak. Jika aqidahnya/tauhidnya kuat maka kepribadiannyapun akan baik (Q.S. Lukman [31] : 12-19).
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar".

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
b.     Paparkan dengan kalimat-kalimat thayyibah.
Kalimat thayyibah yang laksana pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan dahannya menjulang ke langit, dengan buah yang banyak [Q.S. [14] : 24-25].

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (Q.S. Ibrahim [14] : 24).

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Q.S. Ibrahim [14] : 25).
c.       Pupuk dengan akhlak yang mulia
Pohon agar tumbuh dengan baik, perlu pupuk, anak agar tumbuh dengan baik perlu pupuk akhlak yang mulia. 
Pendidikan nabi Ya'qub as. 
 “apa yang akan kalian sembah sepeninggalku ?” Mereka menjawab: “kami akan menyembah tuhanmu, tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, Ishaq, yakni Tuhan Yang Maha Esa” (Al Baqarah [2] : 133).
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S. Al Israa’ [17] :23).

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Q.S. Al Israa’ [17] :24).

d.     Memberi obat/penawar menghadapi hama-hama dalam kehidupan. 
Hama-hama dalam kehidupan semisal tv, pornografi, kekerasan, pornoaksi. Obatnya adalah Al Quran, bertaubat, beristighfar, mengerjakan kebaikan dan muhasabah [H.R. Tirmidzi].
Al quran sebagai obat,dan penyejuk hati.

Dan jika Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?". Apakah (patut Al Qur'an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh" (Q.S. Fushshilat : 44).


“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian” (Al Israa’: 82).

Jadi, jika anak ingin tumbuh dan berkembang dengan baik, maka berilah pupuk yang baik dengan kalimat kalimat tauhid, thayyibah dan akhlak yang mulia serta teladan yang baik dari orang tua, bukan dengan pupuk kekerasan, marah dsbnya. Hijrah kan pola asuh anak dari biasa biasa saja, kepada pola asuh qurani, untuk menghasiilkan generasi terbaik, generasi qurani generasi rabbani. Amin.

D.    Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perilaku Anak
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1.     Pola asuh Demokratis,
Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

2.      Pola asuh Otoriter,
Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.
Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.

3.      Pola asuh Permisif,
Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.

4.      Pola asuh Penelantar.
Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar. Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.
Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.
Kita juga dapat melihat, bahwa harga diri/kepercayaan diri yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang sudah mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.

Semoga setelah membaca ini tulisan singkat ini, Kita bisa menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak Kita di kemudian hari.

Jadilah orang tua yang teladan, serta bersahabat dan dapat menjadi teman sekaligus bagi anak. Insya Allah. 

Wednesday, March 4, 2015

Renungkan Sekejap !



Aku duduk sambil mereguk segelas kopi hitam yang sedap. Hatiku terbang jauh ke masa lalu. Tiba-tiba dia datang dan menggugah lamunanku. Dia membawaku dari sana ke sini. " Ada apa ini?" tanyaku. "Kenapa kamu lakukan itu padaku. Ada apa denganmu sebenarnya!"
Ia hanya menjawab dengan roma muka tersenyum sinis, "Kenapa kamu terus memikirkan yang dulu? Kenapa kamu selalu hanyut mengingat masa lalumu yang sudah ditelan zaman?" katanya bertanya.
"Kenyataan yang pengap membuatku pergi kesana, terbawa oleh derasnya arus zaman,"jawabku. "Aku hanyut dalam masa kanak-kanak yang masih putih bersih dan belum pernah terkotori oleh tipu daya manusia yang berlumuran dosa," kataku menambahkan

Mendengar jawabanku seperti itu, ia kesal dan protes, "Ketahuilah, seorang yang ingin maju tidak pernah menengok ke belakang lagi. Seorang yang menaiki kuda kehidupan untuk mencapai kesuksesan tidak layak melihat terus ke bawah telapak kakinya. Jika terus melihatnya, maka ia akan terpelanting jatuh dari pelana kudanya," tandasnya.

"Benar apa yang kamu katakan," ucapku membenarkan.
Aku harap ia bersedia minum secangkir kopi bersamaku. Sayangnya, ia malah menolak dengan alasan tidak ada waktu untuk minum bersama.

Aku pun memintanya untuk sekedar duduk di sampingku. Kami duduk di atas sofa kayu yang biasanya digunakan kakekku dulu untuk rebahan.
"Kenapa dari waktu ke waktu aku merasa begitu bahagia hidup bersamamu. Terkadng aku juga merasa sial, sempit, tanpa harapan," ujarku kepadanya.

Dia malah tertawa terbahak-bahak dengan suara yang keras. Hingga aku menduga seolah-olah setiap lempengan bumi siap menelan kami berdua. Kalau sekarang itu terjadi, kami dapat mudah melihatnya dengan pesawat luar angkasa.

"Adakah yang berbeda dariku?" tanyanya, "Aku dari dulu belum berubah, masih tetap seperti ini. Hanya saja tempat dan waktulah yang berubah. Aku masih tetap seperti ini. Kamulah yang berubah. Pikiranmu telah berubah. Perasaan dan emosimu telah berubah. Jadi masalahnya ada padamu, bukan padaku."

"Kamu benar," ujarku memotong, "Tetapi aku ingin tetap bahagia, senang, tenang, dan suka cita dalam merenungi bahtera hidup bersasmamu."

Mendengar jawabanku, kedua bibirnya langsung terkuci rapat. Kemudia ia berkata, "Semua terserah padamu. Berhati-hatilah agar aku tidak menyita banyak waktumu. Janganlah kamu memanfaatkan diriku.Karena aku tidak akan kembali sampai Kiamat tiba."

Aku pun menengok kepadanya, tetapi dia sudah tidak ada. Waktu telah berlalu. Aku masih menghirup aroma kopi hangat. Tiba-tiba hatiku berbicara. Aku ingin menghunuskan buku ini. Detik-detik kehidupanku terus berlalu. Waktu kian melaju. Kereta kehidupan kami pun tidak kuasa untuk menunggu.

Kini, apakah mungkin aku dapat menjadikan usia hidupku lebih produktif?
Aku merasa bahagia meskipun berbantal tanah. Sama bahagianya dengan berada di hamparan kain sutera. Perasaan itu tidak mudah didapatkan. Butuh waktu untuk mengulang rutinitas kita secara terprogram dan membersihkan kita dari segala cemoohan zaman.

Beta bergetarnya emosiku. Ada yang membekas mengisi relung-relung perasaanku. Tiada lain ia adalah cerita nyata yang aku baca dari buku-buku sejarah dan biografi sahabat Nabi Muhammad Saw. Aku ingin membuka kembali cerita tersebut untuk para pembaca yang budiman.

Salah seorang sahabat Nabi menderita sakit parah. Para sahabat pun menengoknya. Kebanyakan mereka adalah penduduk Madinah. Rosululloh Saw belum sempat menemuinya menengoknya, hingga sahabat itu wafat. Seusai menguburkan jenazahnya, Rosululloh Saw bersama para sahabat duduk istirahat. Beliau bertanya, "Adakah sesuatu yang ia katakan?"

Para sahabat menjawab, "Menjelang wafatnya, ia mengatakan tiga kalimat. Kami tidak memahami apa maksudnya. Ketika itu, ia berkata, "Seandainya banyak, seandainya baru, seandainya utuh."

Rosululloh Saw lalu bersabda, "Suatu ketika pada hari Jum'at ia bergegas berjalan menuju masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang pria buta. Tidak ada orang yang menuntunnya. Maka ia pun menuntun tangan pria buta itu menuju masjid. Ketika ajalnya tiba, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Maka ia pun berkata, "Seandainya banyak." Maksudnya, langkah-langkahnya menuntun orang buta menuju masjid itu lebih banyak lagi.

Pada hari yang lain di musim dingin yang menusuk tulang, ia berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh. Ditengah jalan, ia berjumpa dengan seorang pria yang hampir mati karena kedinginan. Saat itu, ia mengenakan baju dua lapis, yang satu baru dan yang satu lagi sudah lama. Makaia pun memberikan bajunya yang lama untuk pria tadi. Menjelang wafatnya, ia melihat pahala kebaikannya itu. Ia berkata, "Seandainya baru." Maksudnya, andaikata baju yang diberikan kepada pria yang hampir mati itu adalah baju barunya.

Pada hari yang lain, ia pulang ke rumah dan menanyakan perihal makanan kepada istrinya. Istrinya langsung menyuguhkan sepotoh roti jewawut kepadanya. Ketika hendak menyantap, di depan pintu ia melihat seorang musafir berkata, "Aku lapar sekali." Maka ia pun memberi musafir itu setengah potong dari rotinya. Menjelang wafat, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Ia berkata, "Seandainya utuh." Maksudnya, andaikata roti yang diberikannya itu utuh.

Berapa banyak waktu yang telah ia sia-siakan dibiarkan berlalu tanpa makna sedikitpun. Bepara banyak peluang yang terampas dari kit. Padahal kita bersama-sama berusaha untuk merampasnya. Tidakkah kita mengatur waktu kit. Tidakkah kita menghabiskan setiap saat untuk diisi dengan aktivitas yang bermakna dan berguna. Sebelum pada saatnya nanti tiba kita mengatakan, "Seandainya... seandainya."
***
*Sumber : disadur dari buku "JADIKAN HIDUPMU 48 JAM SEHARI" penulis "ATHA BARAKAT" judul asli buku tersebut adalah "Dha'if Hayatak"

Tuesday, March 3, 2015

Pendidikan Politik Sejak Dini


“Buku Petunjuk” Pendidikan Politik Sejak Dini

Tulisan ini merupakan karya Sang Pendekar Pena "H. Mahpub Djunaidi" yang pernah diterbitkan oleh Koran Kompas pada edisi 10 Maret 1981, penulis mempostingkan ulang "mengutip seutuhnya" karena penulisa rasa masih banyak yang belum mengetahui tulisan-tulisan beliau, di antaranya  “Buku Petunjuk” Pendidikan Politik Sejak Dini. 

Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke Kebun Binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”

Mungkin pertanyaan ini akan membuatnya heran dan bertanya-tanya. Tak jadi apa. Memang begitulah cikal-bakal pertumbuhan pengetahuan, filsafat dan pribadi, diawali dengan pelbagai rupa rasa keheranan dan ingin tahu.

Agar supaya memudahkan, paling utama berhentilah barang setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. “Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan.”

***

Dari situ mampirlah ke kantor pajak. Suruh anak itu berdiri tegak bagaikan batang kerambil, pejamkan mata dan pusatkan perhatian. Bisikkan perlahan tapi pasti, ke lubang kupingnya, “Inilah kantor yang meminta-minta ongkos dari hasil keringatmu. Bahkan kamu buang air besar pun ada tarifnya. Dari uang setoranmu yang terkumpul itulah, yang bisa membikin pemerintah dengan segala peralatannya bernafas, melangkah, bahkan mengaturmu. Jika misalnya uang yang terkumpul itu kurang membuatnya leluasa, selebihnya diambil dari jual batu-batuan dan cairan yang berasal dari dalam bumimu, tidak kecuali dari lautmu. Jadi kamu itu penting dan menentukan. Jangan merasa jadi kecoak! Kamu tidak mau setor? Pemerintah akan menjadi gembel dan duduk bersimpuh di perempatan jalan. Akibatnya bisa panjang juga. Ada memang orang bule di negeri nun jauh di sana, namanya Henry David Thoreau. Entah karena jengkel atau sebab lainnya, orang bule ini berseru supaya orang-orang jangan bayar pajak. "Apa sih, Pemerintah itu?" katanya. Kalau ada orang yang setahun sekali muncul di ambang pintu rumahmu dan minta duit pajak, itulah yang namanya Pemerintah. Dia berseru supaya dilakukan civil disobedience, pembangkangan sosial. Ini hanya contoh lho, jangan kamu tiru. Yang penting, kamu mesti tahu bahwa penduduk suatu negeri itu punya harga, bukan seperti kecoak, karena dia memberi nafkah kepada Pemerintah, supaya Pemerintah bisa berdiri di atas dengkulnya, tidak terkulai. Paham kamu?”

***

Sesudah itu tuntunlah si anak melihat-lihat Kantor Pemerintah Daerah. Boleh pilih: Walikota bisa, Bupati bisa, Gubernur pun bisa. Beritahu dia, jadi pejabat Kepala Daerah itu tidak bisa semau-maunya. Ada batas waktu sekian tahun. Lagi pula buat apa lama-lama? Penduduk bisa bosan. Mereka itu tidak bisa jatuh begitu saja dari langit, melainkan lewat pencalonan yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat tingkat Daerah.

“Asal kamu tahu saja, yang namanya Menteri Dalam Negeri memang bisa saja mengangkat orang yang kalah dalam pencalonan bahkan di luar calon sama sekali. Tak usah kamu banyak tahu dulu, karena memang begitu aturannya. Lalu, yang banyak kursinya seperti gedung bioskop itu apa? Oh, itulah yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tempat para anggotanya bersidang. Mereka itu mewakili kamu, kalau kamu nanti sudah cukup umur untuk ikut Pemilihan Umum. Itu hakmu dan bukan kewajiban. Teori membedakan mana hak dan mana kewajiban ini penting, sebab banyak orang yang sudah tua bangka suka keblinger.”

Jika si anak itu bertanya, apa semuanya itu dipilih, cukup bilang “tidak”. Dan jika dia terheran-heran, jawab saja, “Nanti kamu akan tahu sendiri.” Bisa juga terjadi, dia bertanya sebab apa antara Pemerintah dengan Dewan berada dalam satu atap, katakan, “Itu cuma soal teknis, supaya pemerintah tidak capek mondar-mandir. Lagi pula Dewan Perwakilan itu menurut undang-undang yang berlaku, merupakan perangkat Pemerintah Daerah.” Cukup penjelasan sampai di situ, kalau panjang-panjang bisa bikin bingung.

Tak ada salahnya bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang menyangkut soal Pemilihan Umum atau siapa saja pesertanya. Berilah jawaban yang sesederhana mungkin, yang mudah mereka tangkap. Bilang saja bahwa Pemilihan Umum itu boleh memilih tanda gambar peserta yang mana saja. Ketentuan ini berlaku juga buat pegawai negeri. Anak yang cerdik mungkin akan mengajukan pertanyaan mendadak, “Mengapa peserta organisasi peserta cuma tiga, bukankah konstitusi sebagai induk seluruh undang-undang, membolehkan kemerdekaan berserikat dan berorganisasi?” Menghindarlah dari jawaban, sebijak mungkin, asal jangan kentara menggelapkan sesuatu. Anak-anak sekarang berkat gizi dan akibat pengamatan lingkungan dengan mata-kepala sendiri, jangan sekali-kali dikecoh. Dia akan segera menertawakan kita, seakan kita ini seorang pelawak sirkus yang sudah diapkir dan hilang dari peredaran.

***

Serentak hari sudah panas dan matahari sudah menggantung di atas ubun-ubun, ajaklah dia pulang dulu untuk beristirahat. Tetapi jangan dipaksa-paksa. Antara “mendidik” dan “memaksa” terbentang jarak yang amat lebarnya, ingat itu baik-baik. Kalau –ini kalau, lho– kebetulan lewat Kantor Kelurahan, boleh juga sambil lalu diterangkan ala kadarnya ihwal apa itu Lurah. Bilang kepadanya, bahwa dalam garis besarnya ada dua macam Lurah atau Kepala Desa. “Ada yang ditunjuk begitu saja seperti kita menunjuk jenis permen apa yang berkenan, dan ada yang lewat pemilihan oleh penduduk. Yang disebut belakangan ini biasanya terjadi di desa. Tetapi Lurah model pilihan ini pun memiliki ciri yang berbeda-beda. Ada yang lewat pemilihan murni dan ada pula yang lewat pilihan yang ‘dipersiapkan’.” Jika nyinyirnya sudah tidak tertahankan, jawab saja bahwa penjelasannya lain kali, berhubung perut sudah lapar. Perut yang lapar membuat pikiran jadi buntu.

Taruhlah ada waktu luang dan cuaca sesuai benar dengan ramalan Direktorat Metereologi dan Geofisika –persis tidak meleset walaupun cuma setetes air– maka tuntunlah anak itu ke gedung museum, andaikata di kota domisili ada museum dalam makna lumayan. Sekali lagi, itu andaikata! Sebab, pada zaman sekarang ini, pikiran orang sudah mulai terkuras habis untuk membangun hotel, rumah bola sodok, lapangan golf, tempat mandi uap dan panti pijit serta diskotik, sehingga nyaris tak ada sisa buat membangun museum. Karena itu, jika di kota domisili ada gedung museum, tidak ada aibnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat.

Begitu kaki menginjak gerbang, katakanlah kepadanya bahwa dia bukanlah makhluk yang membrojol begitu saja dari lubang batu, melainkan merupakan mata rantai dari rentetan sejarah panjang ke belakang dan jauh terentang ke depan entah dimana batasnya. Setolol-tolol orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah, dan sehina-hinanya orang ialah mereka yang memalsukan sejarah, mengerikitnya seperti tabiat busuk makhluk tikus. Perbuatan macam itu selain akan jadi bahan tertawaan, juga sia-sia saja. Sang sejarah sendiri yang perkasa, akan me-niban-kan batu besar ke kepala hingga luluh lantak jadi bubur.

“Kamu punya buku pelajaran sejarah wajib di sekolah, bukan? Ketahulilah olehmu, setiap yang namanya ilmu – tidak kecuali sejarah – harus siap dan rela diuji serta dipertanyakan benar atau tidaknya. Jangan kamu telan begitu saja sepeti sebutir kacang. Ragu-ragu itu suatu langkah yang mesti ditempuh, jika kita mau sampai ke keyakinan yang tak tergoncangkan. Barangkali gurumu akan tampak gusar jika kau kelewat sering mengajukan pertanyanaan yang kurang biasa, tapi –percayalah– gusarnya itu cuma gusar formal belaka, sebagaimana pantasnya dipertunjukkan oleh seorang pegawai negeri. Belum tentu sampai di hati. Bisa jadi dengan diam-diam dia membenarkanmu, mudah-mudahan. Hati bercabang, rohani retak, sikap ganda; sedang menjadi musim, seperti halnya musim rambutan. Pendapat hati dan pendapat perut punya gardu masing-masing.”

***

Sekali tancap dari museum langsung mampir ke rumai gadai. Berbeda dengan museum, rumah gadai terdapat di tiap kota, bahkan satu kota sering punya lebih dari sebuah rumah gadai. Mengapa tidak memperlihatkan bank? Rumah gadai lebih mudai dijangkau, bisa dilihat dengan mata telanjang, tidak terlalu banyak menyimpan rahasia yang sukar ditembus. Tapi yang penting, rumah gadai itulah pencerminan sejati lapisan terbesar penduduk kita, yaitu rakyat kecil, yang pada suatu pagi –begitu bangun tidur- tahulah dia bahwa tak ada uang sepeser pun di kantong.

Pergi ke bank? Peraturan bank yang begitu ruwet akan menambah pening kepalanya dua kali lipat. Maka pergilah dia ke rumah gadai membawa barang jaminan yang melekat di badan. Bisa berupa kain batik, atau leontin peninggalan nenek-moyangnya. Berjuta penduduk setia berhubungan dengan rumah gadai, dan bukan bank, karena itu arahkanlah pandangannya ke bawah, bukan ke langit. Jangan ke mobil sedan, melainkan ke bis metro mini yang para penumpangnya senantiasa berdesak-desakkan sambil ber-’olahraga leher’, terbungkuk-bungkuk karena terpaksa.

“Bapakmu punya mobil yang dibeli dari hasil gaji dan keringatnya sendiri? Betul? Tapi yang seperti bapakmu itu bisa dihitung dengan jari kaki. Mengertikah kamu apa yang disebut ‘sistem’? Mungkin masih samar-samar, tak apa. Nah, jika sistem ekonomi salah, maka bunutnya bisa panjang. Misalnya, yang mestinya bukan pedagang malah berdagang. Yang mestinya pedagang malah tidak bisa berdagang. Yang mestinya sekolah malahan main di comberan. Semua itu akibat sistem yang salah.

Pernah mendengar tentang hak asasi? Tentu pernah, walau mungkin hanya samar-samar. Itu penting kamu ingat-ingat mulai sekarang, karena hak asasi itu merupakan harta bendamu yang paling berharga. Jauh lebih berharga daripada rumahmu, sepedamu, sepatu roda dan bola tendangmu, digabung jadi satu. Sekarang barangkali belum begitu terasa arti pentingnya, tapi kalau kamu sudah dewasa kelak, dia akan merupakan suatu taruhan. Bisa membuatmu jadi manusia yang punya harga diri, tapi bisa juga membuatmu seperti seekor cacing.

Supaya lebih jelas, dengarkan baik-baik. Kamu punya hak asasi untuk mengeluarkan pendapat, punya hak asasi berkumpul dengan sesama orang yang sepaham, punya hak asasi apakah kamu mau berjongkok atau menungging, sepanjang tidak membawa malapetaka bagi tetangga.

Mulai sekarang harus kautanamkan ke kepalamu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi. Bisakah kamu enak tidur tanpa melahap nasi sepiring pun? Tak seorang pun, sekali lagi tak seorang pun, yang diperbolehkan merampas hak itu darimu. Begitu hakmu itu terampas, kamu bukan lagi manusia biasa, melainkan semacam segumpal asap.”

***

“Besar kemungkinan, bapakmu di rumah suka menyebut-nyebut istilah yang namanya ‘warisan’. Jika yang dimaksud ‘warisan’, itu berupa benda, entah rumah, entah truk, entah kebun kelapa sawit, atau mungkin berupa utang yang mestinya dibayar oleh bapakmu, itu bukan urusanmu. Itu memang ada hubungannya dengan hakmu, ibumu, hak kakak serta adikmu. Tidak ada orang yang perlu mencampuri, karena aturan-aturannya sudah tersedia. Tapi kalau bapakmu –siapa tahu– menyebut-nyebut tentang ‘nilai-nilai’, maka ini soalnya sedikit lain.

Seperti halnya uang logam ratusan, nilai itu punya dua sisi yang berbeda satu sama lain. Ada nilai yang bagus, tapi ada juga nilai yang jelek. Sejak sekarang kamu mesti melatih diri untuk memisahkan, mana nilai baik dan mana nilai yang busuk, culas, serakah, srigala, ular kobra, ataupun kucing garong. Bilang kepada dirimu sendiri serta juga kepada bapakmu, bahwa kamu cuma punya bakat mewarisi nilai-nilai baik dan alergi terhadap nilai-nilai kaleng rombeng. Jika bapakmu itu pikirannya waras, dia akan bersenang hati serta merasa bangga, dan langsung mencium jidatmu.

Bapakmu berlangganan koran? Aneka macam koran? Itu bagus. Masa bodohlah apa koran itu dibelinya atas pilihan sendiri atau langganan wajib lewat kantornya, pokoknya koran. Biasakan banyak membaca, termasuk baca surat kabar ini. kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak. Tapi, membaca surat kabar pun jangan asal membaca. Langkah apapun yang serampangan, tidak bagus. Pakailah daya menimbangmu semaksimal mungkin. Jangan asal suap dan asal telan, nanti ketulangan.”


Kompas, 10 Maret 1981